Minggu, 21 Agustus 2011

Musik tradisional papua

MUSIK TRADISIONAL DI PAPUA
budayatari.jpg
Sesudah menyajikan makalahnya tentang musik tradisional di Indonesia dalam kursus bahasa Indonesia musiman di depan peserta dari beberapa perguruan tinggi di Amerika Serikat di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, 1979, Marina Roseman, salah seorang peserta itu datang pada penyaji makalah itu, Pak C. Akwan. “Karya Dr. J. Kunst yang Anda sebutkan sebagai salah satu referensi, kami pelajari di Cornell,” kata mahasiswa S2 asal Amerika Serikat ini. Nina – demikian nama sapaannya – adalah seorang mahasiswi Jurusan Etnomusikologi pada universitas itu. C. Akwan, seperti yang dituturkannya pada saya kemudian hari di Jakarta, waktu itu masih mahasiswa tingkat terakhir Jurusan Bahasa Inggris UKSW.
Lelaki asal Manokwari ini terkenal juga sebagai seorang musikus berpengalaman dengan banyak prestasi. Misalnya, “Gembala Baik Bersuling nan Merdu” ciptaannya – Kidung Jemaat 415 – ternyata menjadi suatu lagu gereja yang sering dinyanyikan dalam ibadah Kristen di Indonesia dan di luar negeri dan direkam berkali-kali, termasuk suatu versi keroncong oleh Mus Mulyadi. Melodinya diciptakan berdasarkan tangganada tradisional di Papua: lima nada yang mengandalkan urutan not do, re, mi, sol, la.
Anda yang berbakat musikal pun bisa menciptakan lagu berdasarkan tangganada tradisional di Papua. Kalau tidak lagi ingat, Anda bisa pelajari kembali hasil penelitian ilmiah tentang musik tradisional khas di Papua. Kemudian, Anda menciptakan lagu yang khas Papua. Akan lebih afdol kalau iringan musiknya dibuat sekhas mungkin – ini malah dicari musikus luar negeri. Untuk memahami musik tradisional itu, Dr. J. Kunst bisa membantu Anda. Dia sudah meneliti musik tradisional di Papua menjelang akhir 1920 dan pada tahun 1930-an.
Ke Nieuw Guinea Tiga Kali
Dr. J. Kunst terkenal dalam bidang etnomusikologi karena hasil penelitian monumentalnya tentang musik tradisional di Hindia Belanda. Sudah terbit versi bahasa Inggris dari penelitiannya tentang musik tradisional, di antaranya dari Jawa, Sunda, dan Papua. Dia bahkan dipandang salah seorang pelopor cabang ilmu musik yang sekarang disebut “etnomusikologi”.
Penelitian ahli etnomusikologi asal Belanda ini di Nieuw Guinea dilakukan pertama kali pada tahun 1926. Pak J. Kunst ikut serta dalam Ekspedisi Nieuw Guinea Amerika-Belanda yang dipimpin C.C.F.M. Le Roux, seorang ahli etnografi dan topografi, yang mengajak Kunst ikut. Melalui jasa pemimpin ekspedisi ini, Kunst diperlengkapi dengan 14 fonogram – sejenis alat untuk merekam suara dan lagu – untuk merekam nyanyian dan musik suling suku Takutameso atau Kauwerawet di Papua. (Rekaman dilakukan Le Roux.) Karena terhalang untuk merekam musik suku Awembiak dan Dem, dua orang anggota ekspedisi itu yang hafal lagu-lagu kedua suku tadi bisa merekamnya untuk Kunst. Yang satu menyanyikannya dan yang lain memainkannya pada sebuah biola.
Pada bulan Mei 1929, Kunst berkesempatan bertemu langsung dengan musik Papua.Pada bulan ini, Perhimpunan Batavia untuk Kesenian dan Sains merayakan ulang tahunnya yang ke-150. Perayaan ini berbarengan dengan penyelenggaraan Kongres Sains Pasifik Keempat di Batavia – sekarang bernama Jakarta – tempat suatu pameran etnografik diadakan. Pada pameran ini, kelompok-kelompok masyarakat dari seluruh Nusantara tampil, termasuk orang-orang Papua. Mereka berasal dari beberapa suku di utara Nieuw Guinea, yaitu, dari pesisir Waropen, pulau Yapen, dan beberapa kampung di Teluk Humboldt. J. Kunst berkesempatan merekam beberapa lagu dari suku-suku pesisir di utara Nieuw Guinea ini.
Kunst lalu mengadakan suatu kunjungan resmi – tidak berhubungan dengan musik – ke Nieuw Guinea tahun 1932. Dia berkesempatan merekam beberapa nyanyian Papua dari penduduk Waigeo dan Sorong. Sekitar tahun ini, dia mendapat suatu koleksi nyanyian suku Marind, Ye, dan Kanun-anim yang direkam di sekitar Merauke oleh Pater Verschueren. Dia juga mendapat suatu koleksi 24 nyanyian Marind-anim yang dicatat Bapak Soukotta, seorang perwira polisi asal Ambon.
Terakhir, dia mengikuti suatu ekspedisi ke Nieuw Guinea pada tahun 1939. Ekspedisi ini diatur oleh Perhimpunan Geografi Kerajaan Belanda yang dipimpin lagi oleh Le Roux. Dalam ekspedisi ini, Kunst berkesempatan merekam musik suku-suku pegunungan di Pegunungan Tengah dan nyanyian-nyanyian penduduk pesisir di Utah, pesisir baratdaya Nieuw Guinea.
Tiga Hasil Penelitian Kunst
Sesudah Kunst wafat, hasil penelitiannya tentang musik tradisional Papua selama jangka waktu yang berbeda tadi diterbitkan dalam suatu himpunan tiga penelitian oleh isterinya. Bahan-bahan untuk penelitian pertama Kunst tahun 1926 dikerjakannya kembali pada tahun 1927, kemudian diterbitkan untuk pertama kali oleh Panitia Riset Ilmiah Hindia Belanda pada tahun 1931. Penelitiannya yang ketiga diterbitkan Lembaga Tropis Kerajaan Belanda tahun 1950.
Mula-mula, ketiga hasil penelitian J. Kunst diterbitkan dalam bahasa Belanda. Kemudian, versi bahasa Inggris dan perbaikan naskah aslinya diterbitkan Lembaga Kerajaan Belanda untuk Linguistik, Geografi, dan Etnologi pada tahun 1967. Judulnya, Music in New Guinea, dicetak Martinus Nijhoff di ‘s-Gravenhage (Den Haag).
Mengapa Musik Etnik Diteliti
Pada zaman Kunst, para peneliti masyarakat primitif belum tahu banyak tentang musik tradisional masyarakat. Mereka belum punya suatu gambaran umum tentang apa musik tradisional suku-suku terasing. Mereka, karena itu, membutuhkan suatu pemahaman sistematik tentang musik seluruh bangsa di dunia melalui fonografi. Pada zaman itu, musik tradisional Afrika yang sedikit sekali diteliti dan dipahami tengah terancam oleh musik modern dari kebudayaan Barat. Kalau musik traidional itu tidak cepat diteliti dan direkam melalui fonogram, para ahli musik kuatir mereka terlambat untuk memahami apa sesungguhnya musik Afrika itu. Kekuatiran yang sama berlaku juga untuk musik dari Hindia Belanda, termasuk dari Nieuw
MUSIK TRADISIONAL DI PAPUA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar